Kesalahan Sejarah


Kesalahan Sejarah Tentang Syekh Siti Jenar Yang Menjadi Fitnah & Controversi............

> Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan 'Ali] > bin Sayyid Shalih> bin Sayyid 'Isa 'Alawi> bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin> bin Sayyid 'Abdullah Khan> bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan> bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih> bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath> bin Sayyid 'Ali Khali Qasam> bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair> bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah> bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir> bin Sayyid 'Ubaidillah> bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir> bin Sayyid 'Isa An-Naqib> bin Sayyid Muhammad An- Naqib> bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi> bin Imam Ja'far Ash-Shadiq> bin Imam Muhammad al-Baqir> bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin> bin Imam Husain Asy-Syahid> bin Sayyidah Fathimah Az- Zahra> binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw. Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran.

Jumat, 24 Januari 2014

Makna Nur Cahaya 6666


  1. Nur Cahaya Allah yang 6666 sinar itu artinya sinar yang tersusun 6666 ayat Al-Qur'an sebagai kita suci umat islam. Setiap ayat memiliki gelombang sendiri-sendiri, yang panjang gelombangnya dapat ditetapkan dari bentuk dan susunan ayat tersebut. 
  2. sebagai kata kunci, tak ada yang mampu menandingi Al-Qur'an, karena Kalam Allah ini sarat dengan dimensi keilmuan dan kecerdasan. itulah yang menjadi tumpuan hakiki dari segala ilmu di jagat raya seisinya.
  3. adapun hubungannya dengan Kanjeng Nabi Muhammad, adalah Kanjeng Nabi adalah manusia yang dapat mengimplementasikan isi dan makna dari Kalam Allah tersebut bahkan kanjeng nabi disebutkan dalam ilmu huruf adalah gudangnya ilmu sedangkan Ali adalah pintunya ilmu. bersambung.....

RAHASIA DI ATAS RAHASIA

  1. Tidak ada satu pun di muka bumi ini yang diciptakan sia-sia, tetapi dengan maksud tertentu. Pemahaman ini bergantung pada kecerdasan manusia sendiri. Bagi yang beriman, kecerdasan dan kebijaksanaannya meningkat; mereka dapat memahami alasan ini semakin baik dari waktu ke waktu.
  2. Salah satu ajaran terpenting adalah bahwa kita selalu diuji sepanjang hidup kita. Allah menguji keikhlasan dan keimanan kita dalam kejadian-kejadian yang berbeda. Dia juga memberikan karunia untuk menguji apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur ataukah sebaliknya. Dia menciptakan berbagai kesulitan bagi kita untuk mengetahui apakah kita bersabar atau tidak.
  3. Kehidupan kita secara terencana merupakan materi untuk diuji. Mulanya, kita diuji melalui fisik kita, Karena itu, setiap yang kita dengar dan lihat sebenarnya merupakan bagian dari ujian tersebut. Dalam segala situasi, kita akan diuji untuk melihat apakah kita berperilaku sesuai dengan Al-Qur`an ataukah dengan keinginan kita sendiri yang sia-sia.
  4. Allah menguji ketabahan orang-orang beriman dengan berbagai kesulitan. Salah satunya adalah tekanan dari orang-orang ingkar. Semua tindakan buruk, seperti hinaan, ejekan, kekerasan, dan bahkan siksaan serta pembunuhan, hanyalah ujian untuk orang-orang beriman.
  5. Hal yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa semua kehilangan dan kecelakaan serta kegagalan ini diciptakan Allah sebagai ujian khusus. Bagi mereka yang tidak paham, hal ini akan menjadikannya fasik.
  6. Hanya orang yang memiliki kecerdasanlah yang dapat menyadari ujian ini dan dapat berhasil dalam ujian dengan menggunakan kecerdasannya tersebut. Karena itu, seorang yang beriman jangan sampai lupa bahwa ia sedang diuji sepanjang hidupnya. Ujian ini tidak akan berlalu atau surga tidak dapat diraih hanya dengan mengatakan “saya beriman”.
  7. Untuk itulah apapun yang kita dapat kan, hal ini sudah merupakan rahasia Sang Maha Pemilik Rahasia (inilah yang disebut Rahasia Di Atas Rahasia)

Mencari Tuhan Dibalik Huruf Miim dan Ain

Orang yang mencari Tuhan dibalik huruf miim dan ain akan menemukan Nya.
Huruf miim merupakan muhammad rosulillah atau Ahmad, yang merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah. Perbedaan antara Ahad dan Ahmad adalah huruf arab Miim (Muhammad Rosulillah – penutup jalur risalah dan kenabian).  
 
Huruf miim membentuk, posisi sujud dalam solat, sujud merupakan posisi kedekatan dengan Alloh, bahkan sujud merupakan simbol dari wahdaniyah Allah.
 
Huruf ain bermakna sayidina Ali bin Abu tholib merupakan pintu gerbang keilmuan. 
Huruf ayn membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat asbabun nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin abu thalib, yaitu orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam solat melakukan sedekah berupa cincin. Inilah ayat quran itu: Walimu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan shalat, membayar zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55). (RENUNGKAN)

BELAJAR IKHLAS DARI SYECH SITI JENAR

“ Katakan, sesungguhnya sholat ku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, seru sekalian alam, tiada sekutu baginya, dan demikianlah yang di perintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).(QS. Al-An’am : 162-163)

Jikalau kita mencoba untuk sedikit menguak makna yang terkandung pada ayat atau kalam Gusti Allah di atas, tentunya bagi kita yang hati kita dalam genggaman kuasa Allah akan mempertanyakan sudahkan kita tidak menduakan Gusti Allah ?. Tentunya jawabannya berada dalam hati kita karena hal ini berkaitan dengan kewajiban-kewajiban asasi kita sebagai hamba Gusti Allah dan kewajiban asasi terkait dengan penghambaan kita akan Allah sebagai wujud dari keikhlasan diri kita.
 
Ikhlas, adalah sebuah kata yang tak asing lagi di telinga kita. Kata ikhlas sering digunakan dalam berbagai aktifitas hidup kita, mulai saat bersedekah, beribadah, bekerja, berusaha, membantu orang lain, berkeluarga, dan banyak aktifitas hidup lainnya. Kata ikhlas biasanya, sering kita gunakan untuk menjelaskan tindakan-tindakan yang tidak beroreintasi materil, tanpa pamrih dan tulus.
 
Ikhlas adalah sebuah kemurnian niat, ucapan, tindakan, dan perbuatan  yang  benar-benar  di  tujukan  untuk  mengharap  keridhaan Allah SWT. Cuma Allah tujuannya, bukan yang lain, tak boleh bercabang, tak boleh ternodai oleh tujuan-tujuan yang lain. Kalau bercampur atau bercabang, apapun tindakannya, keikhlasannya atau luntur, dan tidak diterima oleh Allah.
 
Ikhlas adalah suatu rahasia antara Allah dan hambanya. Bahkan malaikat dan syetan tak mampu mengetahuinya, karena ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hambanya. Berbahagialah hamba-hamba yang hatinya ikhlas, karena dia akan mendapat rahmat, karunia, dan ridha.
 
Ikhlas adalah proses permurnian diri, bahwa tak ada zat yang patut disembah, tempat mengadu, dan tempat bergantung kecuali Allah. Tak ada  jalan  lain  untuk mengisi  kekosongan  dan  kehampaan  spritualitas, kecuali dengan ikhlas. Karena hanya dengan ikhlas lah hati manusia akan kembali       tentram dan bahagia. Manusia ikhlas akan senantiasa memancarkan energi positif, yang akan membawanya pada keselamatan dan kesejahteraan hidup.
 
Ikhlas adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena mustahil sebuah amal diterima oleh Allah tanpa keikhlasan. Ikhlas juga, syarat mutlak dikabulkannya sebuah DIKIR, karena DIKIR adalah senjatanya. Suatu sarana yang digunakan seorang mu’min apabila usaha-usaha rasional menemui jalan buntu. Karena tak ada pintu lain yang bisa menolong kecuali pintu Allah. Dan cara mengetuknya melalui DIKIR, tapi hanya DIKIR orang-orang ikhlaslah yang akan dipenuhi oleh Allah.
 
Menggapai hakikat ikhlas, laksana menyelami lautan yang dalam. Banyak orang yang kehabisan nafas sebelum mencapai dasar lautan, akibatnya banyak yang tenggelam kecuali sebagian kecil    saja. Berbahagialah hamba-hamba yang telah mencapai nilai-nilai keikhlasan di hatinya. Karena Allah menjamin tempat kembali yang paling baik buat mereka, menyelamatkan mereka dari   segala kesulitan hidup, melapangkan hatinya dan mengangkat beban-beban hidup dipundaknya. Keikhlasan akan menguatkan dan menopang orang-orang yang meniti di jalan  Allah.  Karena  hanya  dari  Allah  lah  datangnya  pertolongan  dan taufiq hidayah , juga hanya kepada-Nyalah kembali semua urusan. Dan Allah adalah sebaik-baiknya penolong.
 
Kekuatan ikhlas, ternyata dapat memberikan perubahan positif dalam kehidupan manusia. Kekuatan positif inilah yang membuat orang ikhlas, selalu mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya. Orang ikhlas hatinya, akan selalu di lapangkan hidupnya oleh Allah, jiwanya selalu berserah diri pada pencipta-Nya. Sehingga beban-beban di punggungnya, akan di ringankan oleh Allah dari beban-beban ujian yang memberatkan hidupnya, semua kesulitannya akan di mudahkan oleh Allah. Karena orang ikhlas selalu percaya, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Dan ia percaya, Allah akan selalu menolong hamba-hambanya yang ikhlas.

BELAJAR BERDOA DARI ATHAILAH DAN SITI JENAR

  1. Apabila kita berkehendak mendapatkan sesuatu di dunia maupun di akhirat, maka kita harus berusahan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Jika usaha kita gagal mendapatkan karunia gusti Allah maka di situlah ada sesuatu yang salah didiri kita.
  2. Oleh sebab itu athailah dan siti jenar memberikan penjelasan kepada kita terkait dengan do’a yang menurut dua beliau itu do’a lebih diartikan dengan dzikir, ketika do’a diartikan dzikir maka dzikir tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, karena tempatnya dzikir bukan di mulut akan tetapi dzikir berada di hati bahkan hati yang paling dalam yaitu yang disebut dengan hati nurani.
  3. Dan dzikir yang paling disenangi oleh gusti Allah adalah bukan memohon segala sesuatu dari Gusti Allah, karena memohon itu merupakan perbuatan makhluk yang kurang beradap kepada Gusti Allah, pada tindakan memohon itu ada indikasi memerintah Gusti Allah. Oleh sebab itu sebagai hamba Allah kita berdzikir dengan hati seraya meninggikan Gusti Allah, yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa cinta kepada gusti Allah.
  4. Sehingga dengan cinta, kita dapat berkomunikasi dengan intens kepada Gusti Allah, karena kita harus husnuddzon (berbaik sangka terhadap Gusti Allah), bahwa Gusti Allah akan cinta kepada kita semua. Semoga bermanfaat....

MAKNA SHOLAT MENURUT SYECH SITI JENAR (3)


  1. Sholat adalah sarana untuk komunikasi secara intens dengan gusti Allah. Karena sholat merupakan panggilan rahasia dan "pertemuan rahasia" shg terjadi kontak batin antara Makhluk dengan Sang Kholik. dalam sholat kita sebagai makhluk berusaha menguak cahaya Allah, dan cahaya Allah yang diturunkan kepada Kanjeng Nabi ada 6666 sinar (cahaya).
  2. Lalu, bagaimana kita bisa "menangkap" cahaya 6666 Allah itu ?, salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan melakukan ibadah sholat. sholat yang dimaksud adalah sholat khusyu'. khusyu' adalah sebuah bentuk dari sikap penyerahan diri melalui qolbu (hati) kepada gusti Allah.
  3. kembali kepada sholat, sholat pada awalnya merupakan gerakan fisik, kemudian mencapai puncaknya adaah gerakan mistis, dimana manusia memasuki alam rasa, olah rasa, dan olah batin. sehingga menurut kanjeng Nabi Muhammad disebutkan bahwa sholat itu merupakan mi'raj nya kaum muslimin. 
  4. berdasarkan sabda kanjeng Nabi tersebut maka ukuran kekusyu'an sholat manusia dapat dilihat dari dampak positif dalam diri manusia tersebut yakni semakin meningkatnya lapis-lapis kesadaran manusia akan dirinya sendiri, siapa diri ini, untuk apa diri ini hidup dan bagaimana diri hidup

Hubungan Tasawuf Dengan Ilmu Kalam, Ilmu Falsafah, Ilmu Fiqih, Dan Ilmu Jiwa

Hubungan Tasawuf Dengan Ilmu Kalam, Ilmu Falsafah, Ilmu Fiqih, Dan Ilmu Jiwa


A.    PENGERTIAN TASAWUF

          Kata sufi mulanya muncul pada abad ke-9. Asal usul kata ini dibahas oleh hujwiri pada abad ke-11. Ia mengemukakan nama itu mungkin berasal dari kata shuf (yang berarti wol), karena kaum sufi memakai busana wol. Atau dari ahli suffah, nama yang dilekatkan pada orang-orang yang tinggal diberanda masjid Nabi Muhamad. Atau dari shaft (yang berarti kesucian). Nabi Muhamad menyatakan “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal penciptanya”. Tasawuf adalah jalan kembali kekeadaan azali manusia, jalan yang ditempuh untuk menemukan makna dan tujuan, untuk mencapai ketenangan dan kehidupan abadi, jalan yang ditempuh orang untuk bisa pulang kerumah. Dalam literatur barat, tasawuf sering disebut mistisme Islam. Sebab ia adalah jalan bagi pengalaman pribadi tentang cinta ilahi dan ia mencakup pemahaman ektase yang dikenal dengan mistis. Tasawuf berarti mengalami dan menghayati realitas agama, penemuan dan realitas yang dicanangkan oleh semua Nabi. Semua orang di karuniai potensi untuk menemukan rahasia kehidupan ini. Pengalaman tidak bisa dicapai melalui nalar dan logika, melainkan harus datang dari lubuk hati terdalam. Tasawuf adalah Islam, karena Islam berarti berserah diri kepada Tuhan, dan tujuan Tasawuf adalah berserah diri kepada Tuhan, syarat untuk mencapai penyatuan dengan Tuhan sang kekasih.

B.    HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU KALAM

          Ilmu kalam adalah disiplin ilmu keIslaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah sampai pada perbincangan yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik rasional (aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berpikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits. Pembicaraan materi-materi yang tercakup dalam ilmu kalam terkesan tidak menyentuh rasa rohaniah. Sebagai contoh, ilmu kalam menerangkan bahwa Allah bersifat Sama’, Bashar, Kalam, Iradah, Qudrah, Hayat, dan sebagainya. Namun, ilmu kalam tidak menjelaskan bagaimana seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah mendengar dan melihatnya, bagaimana pula perasaan hati seseorang ketika membaca Al-Qur’an, bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari kekuasaan Allah ? 

          Pernyataan-pernyataan diatas sulit terjawab hanya dengan berlandaskan pada ilmu kalam. Biasanya, yang membicarakan penghayatan sampai pada penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu Tasawuf. Disiplin inilah yang membahas bagaimana merasakan nilai-nilai akidah dengan memperhatikan bahwa persoalan bagaimana merasakan tidak saja termasuk dalam lingkup hal yang diwajibkan. Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya, kekufuran dan manifestasinya, serta kemunafikan dan batasannya. Sementara pada ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketentraman. Sebagaimana dijelaskan juga tentang menyelamatkan diri dari kemunafikan. Semua itu tidak cukup hanya diketahui batasan-batasannya oleh seseorang. Sebab terkadang seseorang sudah tahu batasan-batasan kemunafikan, tetapi tetap saja melaksanakannya.

          Dalam kaitannya dengan ilmu kalam, ilmu Tasawuf mempunyai fungsi sebagai berikut.
1.     Sebagai pemberi wawasan  spiritual dalam pemahaman kalam. Penghayatan yang mendalam lewat hati terhadap ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati atau teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu Tasawuf merupakan penyempurna ilmu kalam.

  1. Berfungsi sebagai pengendali ilmu Tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama-ulama salaf, hal itu harus ditolak.
  2. Berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional disamping muatan naqliyah, ilmu kalam dapat bergerak kearah yang lebih bebas. Disinilah ilmu Tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam terkesan sebagai dialektika keIslaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan hati.

Andaikata manusia sadar bahwa Allahlah yang memberi, niscaya rasa hasud dan dengki akan sirna, kalau saja dia tahu kedudukan penghambaan diri, niscaya tidak akan ada rasa sombong dan membanggakan diri. Kalau saja manusia sadar bahwa Allahlah pencipta segala sesuatu, niscaya tidak akan ada sifat ujub dan riya. Dari sinilah dapat dilihat bahwa ilmu tauhid merupakan jenjang pertama dalam pendakian menuju Allah (pendakian para kaum sufi). Dalam ilmu Tasawuf, semua persoalan yang berada dalam kajian ilmu kalam terasa lebih bermakna, tidak kaku, tetapi akan lebih dinamis dan aplikatif.

C.    HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU FALSAFAH

Biasanya Tasawuf dan filsafah selalu dipandang berlawanan. Ada juga anggapan bahwa pencarian jalan Tasawuf mengharuskan pencelaan filsafat, tidak hanya berupa timbal balik dan saling mempengaruhi, bahkan asimilasi (perpaduan) dan hubungan ini sama sekali tidak terbatas pada kebencian dan permusuhan. Tasawuf adalah pencarian jalan ruhani, kebersatuan dengan kebenaran mutlak dan pengetahuan mistik menurut jalan dan sunnah. Sedangkan filsafah tidak dimaksudkan hanya filsafah peripatetic yang rasionalistik, tetapi seluruh mazhab intelektual dalam kultur Islam yang telah berusaha mencapai pengetahuan mengenai sebab awal melalui daya intelek. Filsafat terdiri dari filsafat diskursif (bahtsi) maupun intelek intuitif (dzawqi).

Hubungan antara Tasawuf dan filsafat, yaitu : 
  1. Bentuk hubungan yang paling luas antara Tasawuf dan filsafat tentu saja adalah pertentangan satu sama lain, sebagaimana tampak dalam karya-karya al-Ghazali bersaudara, Abu hamid dan Ahmad. Dan penyair sufi besar seperti Sana’I, Athar, dan Rumi. Kelompok sufi ini hanya memperhatikan aspek rasional dari filsafat, dan setiap kali berbicara tentang intelek, mereka tidak mengartikan intelek dalam arti mutlaknya, namun mengacu kepada aspek rasional intelek (akal). Athar juga memahami filsafat hanya sebagai filsafat peripatetic yang rasionalistik, dan menekankan bahwa hal itu tidak boleh dikelirukan dengan misteri ilahiah dan pengetahuan ilahiah, yang merupakan usaha puncak pensucian jiwa dibawah bimbingan spiritual para guru sufi. Intelek tidak sama dengan hadist Nabi dan falsafah tidak sama dengan teosofi (hikmah) dalam makna Qur’aninya. Matsnawi adalah sebuah Masterpiece filsafat.
  2.  Hubungan antara Tasawuf dan filsafat tampak dalam munculnya bentuk khusus yang terjalin erat dengan filsafat. Meskipun bentuk tasawuf ini tidak menerima filsafat peripatetic dan mazhab-mazhab filsafat lain yang seperti itu, namun ia sendiri tercampur dengan filsafat atau teosofi (hikmah) dalam bentuknya yang paling luas. Dalam mazhab Tasawuf itu, intelek sebagai alat untuk mencapai realitas tentang yang mutlak dengan memperoleh kedudukan yang tinggi. Dengan demikian, dalam tasawuf berkembang satu jenis teosofi (ilmu ilahi) yang tidak hanya datang untuk menggantikan filsafat didunia Arab, tapi di Persia ia juga amat mempengaruhi jika bukan menggantikan filsafat dan kemudian secara amat efektif  menggabungkan filsafat dan Tasawuf, bahkan mengganti nama Tasawuf menjadi Irfan (gnosis,makrifat) pada periode safawi. Penentangan terhadap filsafat masih tetap tampak, tapi penentangan ini sebenarnya muncul dalam kaitannya dengan istilah falsafah dan rasionalisme. Hubungan Tasawuf dan filsafah berbeda dari apa yang diamati dalam tasawuf yang didominasi cinta, seperti pada Athar dan lainnya.
  3. Hubungan antara Tasawuf dan filsafat ditemukan dalam karya-karya para sufi yang sekaligus juga filosof, Yang telah berusaha untuk merujuk tasawuf dan filsafat. Afdhaluddin kasyani, Quthbuddin syirazi, Ibd Turkah al-Isfahani, dan Mir Abul Qosim findiriski, orang-orang ini seluruhnya adalah sufi yang berjalan pada jalan spiritual dan telah mencapai maqam spiritual, dan beberapa diantara mereka terdapat para wali, tetapi pada saat yang sama secara mendalam memahami filsafat dan cukup mengherankan, beberapa diantara mereka lebih tertarik pada  filsafat peripatetic dan rasionalistik daripada filsafat intuitif (dzawqi), sebagaimana dapat diamati dalam kasus Mir Findiriski yang amat mendalami As-Syifanya Ibnu Sina. Diantara kelompok ini, Afdhaluddin Kasyani memegang kedudukan yang unik. Ia tidak hanya salah satu sufi terbesar yang hingga hari ini mouseleumnya di Maqam Kasyani menjadi tempat Ziarah, baik orang-orang yang awam maupun orang-orang terpelajar, tetapi ia juga dianggap sebagai salah satu filosof Persia terbesar yang sumbangannya bagi pengembangan bahasa filsafat Persia tak tertandingi. Karya-karya filsafatnya dalam logika, teologi, ataupun dalam ilmu-ilmu alam ditulis dalam bahasa Persia yang jelas dan fasih, dan merupakan Masterpiece dalam bahasa ini. Ia tidak hanya menunjukkan dengan jelas wawasan tasawuf dalam syair-syairnya, namun dalam hal logika dan filsafat yang paling ketat sekalipun. Figur besar lain seperti Quthbuddin al-Syirazi, yang dalam masa remajanya bergabung dengan para sufi dan juga menulis karya besar dalam filsafat peripatetic dalam bahasa Persia, Durrat al-Tajj, lalu bin Turkah Isfahani, yang Tamhid al-Qawaidnya merupakan Masterpiece filsafat sekaligus Tasawuf, dan Mir Abul Qosim Findiriski, yang menjadi komentator karya metafisika Hindu penting, Yoga Vaisithsa adalah sufi dan ahli makrifat   yang kepadanya banyak mukjizat dinisbatkan. Mereka semua sesungguhnya adalah para pengikut mazhab Afdhluddin Kasyani, sejauh menyangkut upaya pemantapan hubungan antara Tasawuf dan Filsafat.
  4. Kategorisasi umum kita mengenai hubungan Tasawuf dengan filsafat, mencakup para filosof yang mempelajari atau mempraktekan Tasawuf. Yang pertama dari kelompok ini adalah Al-Farabi, yang mempraktekan Tasawuf dan bahkan telah mengubah musik yang dimainkan dalam pertemuan Sama’ pada sufi, mutiara hikmah yang dinisbatkan kepadanya sangatlah penting. Karena, pada dasarnya, inilah buku mengenai filsafat maupun makrifat dan hingga kini diajarkan di Persia bersama komentar-komentar makrifati.
D.                HUBUNGAN  TASAWUF DENGAN ILMU FIQIH

          Biasanya, pembahasan kitab-kitab fiqih selalu dimulai dari Thaharah, kemudian persoalan-persoalan kefiqihan lainnya. Namun, pembahasan ilmu fiqih tentang thaharah atau yang lainnya secara tidak langsung terkait dengan pembicaraan nilai-nilai rohaniahnya. Persoalannya sekarang, disiplin ilmu apakah yang dapat menyempurnakan ilmu fiqih dalam persoalan-persoalan tersebut ? Ilmu Tasawuf tampaknya merupakan jawaban yang paling tepat karena ilmu ini berhasil memberikan corak batin terhadap ilmu fiqih. Corak batin yang dimaksud adalah ikhlas dan khusyuk berikut jalannya masing-masing. Bahkan ilmu ini mampu menumbuhkan kesiapan manusia untuk melaksanakan hukum-hukum fiqih. Akhirnya, pelaksanaan kewajiban manusia tidak akan sempurna tanpa perjalanan rohaniah.

          Dahulu para ahli fiqih mengatakan “Barang siapa mendalami fiqih, tetapi belum bertasawuf, berarti ia fasik. Barang siapa bertasawuf, tetapi belum mendalami fiqih, berarti ia zindiq. Dan Barang siapa melakukan ke-2 nya, berarti ia melakukan kebenaran”. Tasawuf dan fiqih adalah 2 disiplin ilmu yang saling menyempurnakan. Jika terjadi pertentangan antara ke-2 nya, berarti disitu terjadi kesalahan dan penyimpangan. Maksudnya, boleh jadi seorang sufi berjalan tanpa fiqih, atau seorang ahli tidak mengamalkan ilmunya. Jadi, seorang ahli sufi harus bertasawuf (sufi), harus memahami dan mengikuti aturan fiqih. Tegasnya, seorang fiqih harus mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan hukum dan yang berkaitan dengan tata cara pengamalannya. Seorang sufi pun harus mengetahui aturan-aturan hukum dan sekaligus mengamalkannya. Ini menjelaskan bahwa ilmu Tasawuf dan ilmu Fiqih adalah 2 disiplin ilmu yang saling melengkapi.

E.                 HUBUNGAN TASAWUF DENGAN ILMU JIWA

          Dalam pembahasan Tasawuf dibicarakan tentang hubungan jiwa dengan badan. Yang dikehendaki dari uraian tentang hubungan antara jiwa dan badan dalam Tasawuf tersebut adalah terciptanya keserasian antara ke-2 nya. Pembahasan tentang jiwa dan badan ini dikonsepsikan para sufi dalam rangka melihat sejauh mana hubungan perilaku yang dipraktikan manusia dengan dorongan yang dimunculkan jiwanya sehingga perbuatan itu dapat terjadi. Dari sini, baru muncul kategori-kategori perbuatan manusia, apakah dkategorikan sebagai perbuatan jelek atau perbuatan baik. Jika perbuatan yang ditampilkan seseorang baik, ia disebut orang yang berakhlak baik. Sebaliknya, jika perbuatan yang  ditampilkannya jelek, ia disebut sebagai orang yang berakhlak jalek. Dalalm pandangan kaum sufi, akhlak dan sifat seseorang bergantung pada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya. Jika yang berkuasa dalam tubuhnya adalah nafsu-nafsu hewani atau nabati, yang akan tampil dalam perilakunya adalah perilaku hewani atau nabati pula. Sebaliknya, jika yang berkuasa adalah nafsu insani, yang akan tampil dalam perilakunya adalah perilaku insani pula. Orang yang sehat mentalnya adalah yang mampu merasakan kebahagiaan dalam hidup, karena orang-orang inilah yang dapat merasakan bahwa dirinya berguna, berharga, dan mampu menggunakan segala potensi dan bakatnya semaksimal mungkin dengan cara membawa kebahagiaan dirinya dan orang lain. Disamping itu, ia mampu menyesuaikan diri dalam arti yang luas, terhindar dari kegelisahan-kegelisahan dan gangguan jiwa, serta tetap terpelihara moralnya