- Nur Cahaya Allah yang 6666 sinar itu artinya sinar yang tersusun 6666 ayat Al-Qur'an sebagai kita suci umat islam. Setiap ayat memiliki gelombang sendiri-sendiri, yang panjang gelombangnya dapat ditetapkan dari bentuk dan susunan ayat tersebut.
- sebagai kata kunci, tak ada yang mampu menandingi Al-Qur'an, karena Kalam Allah ini sarat dengan dimensi keilmuan dan kecerdasan. itulah yang menjadi tumpuan hakiki dari segala ilmu di jagat raya seisinya.
- adapun hubungannya dengan Kanjeng Nabi Muhammad, adalah Kanjeng Nabi adalah manusia yang dapat mengimplementasikan isi dan makna dari Kalam Allah tersebut bahkan kanjeng nabi disebutkan dalam ilmu huruf adalah gudangnya ilmu sedangkan Ali adalah pintunya ilmu. bersambung.....
Kesalahan Sejarah
Kesalahan Sejarah Tentang Syekh Siti Jenar Yang Menjadi Fitnah & Controversi............
> Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan 'Ali] > bin Sayyid Shalih> bin Sayyid 'Isa 'Alawi> bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin> bin Sayyid 'Abdullah Khan> bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan> bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih> bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath> bin Sayyid 'Ali Khali Qasam> bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair> bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah> bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir> bin Sayyid 'Ubaidillah> bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir> bin Sayyid 'Isa An-Naqib> bin Sayyid Muhammad An- Naqib> bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi> bin Imam Ja'far Ash-Shadiq> bin Imam Muhammad al-Baqir> bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin> bin Imam Husain Asy-Syahid> bin Sayyidah Fathimah Az- Zahra> binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw. Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran.
Jumat, 24 Januari 2014
Makna Nur Cahaya 6666
RAHASIA DI ATAS RAHASIA
- Tidak ada satu pun di muka bumi ini yang diciptakan sia-sia, tetapi dengan maksud tertentu. Pemahaman ini bergantung pada kecerdasan manusia sendiri. Bagi yang beriman, kecerdasan dan kebijaksanaannya meningkat; mereka dapat memahami alasan ini semakin baik dari waktu ke waktu.
- Salah satu ajaran terpenting adalah bahwa kita selalu diuji sepanjang hidup kita. Allah menguji keikhlasan dan keimanan kita dalam kejadian-kejadian yang berbeda. Dia juga memberikan karunia untuk menguji apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur ataukah sebaliknya. Dia menciptakan berbagai kesulitan bagi kita untuk mengetahui apakah kita bersabar atau tidak.
- Kehidupan kita secara terencana merupakan materi untuk diuji. Mulanya, kita diuji melalui fisik kita, Karena itu, setiap yang kita dengar dan lihat sebenarnya merupakan bagian dari ujian tersebut. Dalam segala situasi, kita akan diuji untuk melihat apakah kita berperilaku sesuai dengan Al-Qur`an ataukah dengan keinginan kita sendiri yang sia-sia.
- Allah menguji ketabahan orang-orang beriman dengan berbagai kesulitan. Salah satunya adalah tekanan dari orang-orang ingkar. Semua tindakan buruk, seperti hinaan, ejekan, kekerasan, dan bahkan siksaan serta pembunuhan, hanyalah ujian untuk orang-orang beriman.
- Hal yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa semua kehilangan dan kecelakaan serta kegagalan ini diciptakan Allah sebagai ujian khusus. Bagi mereka yang tidak paham, hal ini akan menjadikannya fasik.
- Hanya orang yang memiliki kecerdasanlah yang dapat menyadari ujian ini dan dapat berhasil dalam ujian dengan menggunakan kecerdasannya tersebut. Karena itu, seorang yang beriman jangan sampai lupa bahwa ia sedang diuji sepanjang hidupnya. Ujian ini tidak akan berlalu atau surga tidak dapat diraih hanya dengan mengatakan “saya beriman”.
- Untuk itulah apapun yang kita dapat kan, hal ini sudah merupakan rahasia Sang Maha Pemilik Rahasia (inilah yang disebut Rahasia Di Atas Rahasia)
Mencari Tuhan Dibalik Huruf Miim dan Ain
BELAJAR IKHLAS DARI SYECH SITI JENAR
BELAJAR BERDOA DARI ATHAILAH DAN SITI JENAR
- Apabila kita berkehendak mendapatkan sesuatu di dunia maupun di akhirat, maka kita harus berusahan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Jika usaha kita gagal mendapatkan karunia gusti Allah maka di situlah ada sesuatu yang salah didiri kita.
- Oleh sebab itu athailah dan siti jenar memberikan penjelasan kepada kita terkait dengan do’a yang menurut dua beliau itu do’a lebih diartikan dengan dzikir, ketika do’a diartikan dzikir maka dzikir tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, karena tempatnya dzikir bukan di mulut akan tetapi dzikir berada di hati bahkan hati yang paling dalam yaitu yang disebut dengan hati nurani.
- Dan dzikir yang paling disenangi oleh gusti Allah adalah bukan memohon segala sesuatu dari Gusti Allah, karena memohon itu merupakan perbuatan makhluk yang kurang beradap kepada Gusti Allah, pada tindakan memohon itu ada indikasi memerintah Gusti Allah. Oleh sebab itu sebagai hamba Allah kita berdzikir dengan hati seraya meninggikan Gusti Allah, yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa cinta kepada gusti Allah.
- Sehingga dengan cinta, kita dapat berkomunikasi dengan intens kepada Gusti Allah, karena kita harus husnuddzon (berbaik sangka terhadap Gusti Allah), bahwa Gusti Allah akan cinta kepada kita semua. Semoga bermanfaat....
MAKNA SHOLAT MENURUT SYECH SITI JENAR (3)
- Sholat adalah sarana untuk komunikasi secara intens dengan gusti Allah. Karena sholat merupakan panggilan rahasia dan "pertemuan rahasia" shg terjadi kontak batin antara Makhluk dengan Sang Kholik. dalam sholat kita sebagai makhluk berusaha menguak cahaya Allah, dan cahaya Allah yang diturunkan kepada Kanjeng Nabi ada 6666 sinar (cahaya).
- Lalu, bagaimana kita bisa "menangkap" cahaya 6666 Allah itu ?, salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan melakukan ibadah sholat. sholat yang dimaksud adalah sholat khusyu'. khusyu' adalah sebuah bentuk dari sikap penyerahan diri melalui qolbu (hati) kepada gusti Allah.
- kembali kepada sholat, sholat pada awalnya merupakan gerakan fisik, kemudian mencapai puncaknya adaah gerakan mistis, dimana manusia memasuki alam rasa, olah rasa, dan olah batin. sehingga menurut kanjeng Nabi Muhammad disebutkan bahwa sholat itu merupakan mi'raj nya kaum muslimin.
- berdasarkan sabda kanjeng Nabi tersebut maka ukuran kekusyu'an sholat manusia dapat dilihat dari dampak positif dalam diri manusia tersebut yakni semakin meningkatnya lapis-lapis kesadaran manusia akan dirinya sendiri, siapa diri ini, untuk apa diri ini hidup dan bagaimana diri hidup
Hubungan Tasawuf Dengan Ilmu Kalam, Ilmu Falsafah, Ilmu Fiqih, Dan Ilmu Jiwa
Hubungan Tasawuf Dengan Ilmu Kalam, Ilmu Falsafah, Ilmu Fiqih, Dan Ilmu Jiwa
- Berfungsi sebagai pengendali ilmu Tasawuf. Oleh karena itu, jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah, atau lahir suatu kepercayaan baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, hal itu merupakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau belum pernah diriwayatkan oleh ulama-ulama salaf, hal itu harus ditolak.
- Berfungsi sebagai pemberi kesadaran rohaniah dalam perdebatan-perdebatan kalam. Sebagaimana disebutkan bahwa ilmu kalam dalam dunia Islam cenderung menjadi sebuah ilmu yang mengandung muatan rasional disamping muatan naqliyah, ilmu kalam dapat bergerak kearah yang lebih bebas. Disinilah ilmu Tasawuf berfungsi memberi muatan rohaniah sehingga ilmu kalam terkesan sebagai dialektika keIslaman belaka, yang kering dari kesadaran penghayatan atau sentuhan hati.
- Bentuk hubungan yang paling luas antara Tasawuf dan filsafat tentu saja adalah pertentangan satu sama lain, sebagaimana tampak dalam karya-karya al-Ghazali bersaudara, Abu hamid dan Ahmad. Dan penyair sufi besar seperti Sana’I, Athar, dan Rumi. Kelompok sufi ini hanya memperhatikan aspek rasional dari filsafat, dan setiap kali berbicara tentang intelek, mereka tidak mengartikan intelek dalam arti mutlaknya, namun mengacu kepada aspek rasional intelek (akal). Athar juga memahami filsafat hanya sebagai filsafat peripatetic yang rasionalistik, dan menekankan bahwa hal itu tidak boleh dikelirukan dengan misteri ilahiah dan pengetahuan ilahiah, yang merupakan usaha puncak pensucian jiwa dibawah bimbingan spiritual para guru sufi. Intelek tidak sama dengan hadist Nabi dan falsafah tidak sama dengan teosofi (hikmah) dalam makna Qur’aninya. Matsnawi adalah sebuah Masterpiece filsafat.
- Hubungan antara Tasawuf dan filsafat tampak dalam munculnya bentuk khusus yang terjalin erat dengan filsafat. Meskipun bentuk tasawuf ini tidak menerima filsafat peripatetic dan mazhab-mazhab filsafat lain yang seperti itu, namun ia sendiri tercampur dengan filsafat atau teosofi (hikmah) dalam bentuknya yang paling luas. Dalam mazhab Tasawuf itu, intelek sebagai alat untuk mencapai realitas tentang yang mutlak dengan memperoleh kedudukan yang tinggi. Dengan demikian, dalam tasawuf berkembang satu jenis teosofi (ilmu ilahi) yang tidak hanya datang untuk menggantikan filsafat didunia Arab, tapi di Persia ia juga amat mempengaruhi jika bukan menggantikan filsafat dan kemudian secara amat efektif menggabungkan filsafat dan Tasawuf, bahkan mengganti nama Tasawuf menjadi Irfan (gnosis,makrifat) pada periode safawi. Penentangan terhadap filsafat masih tetap tampak, tapi penentangan ini sebenarnya muncul dalam kaitannya dengan istilah falsafah dan rasionalisme. Hubungan Tasawuf dan filsafah berbeda dari apa yang diamati dalam tasawuf yang didominasi cinta, seperti pada Athar dan lainnya.
- Hubungan antara Tasawuf dan filsafat ditemukan dalam karya-karya para sufi yang sekaligus juga filosof, Yang telah berusaha untuk merujuk tasawuf dan filsafat. Afdhaluddin kasyani, Quthbuddin syirazi, Ibd Turkah al-Isfahani, dan Mir Abul Qosim findiriski, orang-orang ini seluruhnya adalah sufi yang berjalan pada jalan spiritual dan telah mencapai maqam spiritual, dan beberapa diantara mereka terdapat para wali, tetapi pada saat yang sama secara mendalam memahami filsafat dan cukup mengherankan, beberapa diantara mereka lebih tertarik pada filsafat peripatetic dan rasionalistik daripada filsafat intuitif (dzawqi), sebagaimana dapat diamati dalam kasus Mir Findiriski yang amat mendalami As-Syifanya Ibnu Sina. Diantara kelompok ini, Afdhaluddin Kasyani memegang kedudukan yang unik. Ia tidak hanya salah satu sufi terbesar yang hingga hari ini mouseleumnya di Maqam Kasyani menjadi tempat Ziarah, baik orang-orang yang awam maupun orang-orang terpelajar, tetapi ia juga dianggap sebagai salah satu filosof Persia terbesar yang sumbangannya bagi pengembangan bahasa filsafat Persia tak tertandingi. Karya-karya filsafatnya dalam logika, teologi, ataupun dalam ilmu-ilmu alam ditulis dalam bahasa Persia yang jelas dan fasih, dan merupakan Masterpiece dalam bahasa ini. Ia tidak hanya menunjukkan dengan jelas wawasan tasawuf dalam syair-syairnya, namun dalam hal logika dan filsafat yang paling ketat sekalipun. Figur besar lain seperti Quthbuddin al-Syirazi, yang dalam masa remajanya bergabung dengan para sufi dan juga menulis karya besar dalam filsafat peripatetic dalam bahasa Persia, Durrat al-Tajj, lalu bin Turkah Isfahani, yang Tamhid al-Qawaidnya merupakan Masterpiece filsafat sekaligus Tasawuf, dan Mir Abul Qosim Findiriski, yang menjadi komentator karya metafisika Hindu penting, Yoga Vaisithsa adalah sufi dan ahli makrifat yang kepadanya banyak mukjizat dinisbatkan. Mereka semua sesungguhnya adalah para pengikut mazhab Afdhluddin Kasyani, sejauh menyangkut upaya pemantapan hubungan antara Tasawuf dan Filsafat.
- Kategorisasi umum kita mengenai hubungan Tasawuf dengan filsafat, mencakup para filosof yang mempelajari atau mempraktekan Tasawuf. Yang pertama dari kelompok ini adalah Al-Farabi, yang mempraktekan Tasawuf dan bahkan telah mengubah musik yang dimainkan dalam pertemuan Sama’ pada sufi, mutiara hikmah yang dinisbatkan kepadanya sangatlah penting. Karena, pada dasarnya, inilah buku mengenai filsafat maupun makrifat dan hingga kini diajarkan di Persia bersama komentar-komentar makrifati.
